Oleh: khalik0589 | Oktober 30, 2008

MAWARIS

  1. Pengertian, Dasar hukum dan Istilah-istilah dalam mawaris
  1. Pengertian

Al Faraidh الفراءض , kata jama’ bagi al Fariidhoh القريضة artinya ”bagian yang ditentukan kadarnya”. Perkataan al Fardhu, sebagai suku kata dari lafaz fariidhoh, menurut bahasa mempunyai beberapa arti. Misalnya, di dalam beberapa ayat Al Qur’an berikut :

فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

Artinya : barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji (Al Baqarah 197)

Dan pada ayat :

إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْءَانَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ

Artinya : Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali ( Al Qhasas 85 )

Faraidh dalam arti mawaarits, hokum waris mewaris, dimaksud sebagai bagian atau ketentuan yang diperoleh oleh ahli waris menurut syara’.

Ilmu Faraidh didefenisikan oleh ulama, sebagai berikut :

Ilmu fikih yang bersangkut paut dengan pembagian harta pusaka, dan mengetahui perhitungan yang dapat menyampaikan kepada yang mengetahui hal tersebut dan mengetahui kadar yang wajib dari harta pusaka yang menjadi milik tiap orang yang berhak.[1]

Jadi ilmu faraidh dapat didefenisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang ketentuan-ketentuan harta pusaka bagi ahli waris.

Defenisi ini juga berlaku bagi ilmu Mawaarits, sebab ilmu Mawaarits adalah nama lain bagi ilmu Faraidh.

  1. Dasar hukum

Dasar hukum bagi kewarisan adalah nash atau apa yang ada dalam Al Qur’an dan Sunnah. Ayat-ayat Qur’an yang mengatur secara langsung kewarisan diantaranya adalah :

a. QS An Nisa’ : 7

لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا

Artinya : Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.

b. QS An Nisa’ : 9

وَلْيَخْشَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Artinya : Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar

Sedangkan Sunnah Nabi adalah :

عن إبن عباس رض الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم : ألحقوا الفراءض بأهلها فما بقيا فهو لأولى رجل ذكر

Artinya : Dari Ibnu Abbas R.A dari Nabi SAW berkata : “Berikanlah faraid ( bagian-bagian yang ditentukan) itu kepada yang berhak dan selebihnya berikanlah untuk laki-laki dari keturunan laki-laki yang dekat.”

Dan sunnah lainnya :

عن عمران بن حصين أن رجلا أتى النبى صلى الله عليه و سلم فقال : أن ابن ابنى مات فمالى من ميراثه فقال لك السدس

Artinya : Dari ‘Umran bin Husain bahwa seorang laki-laki mendatangi Nabi sambil berkata : “bahwa anak dari anak laki-laki saya meninggal dunia, apa yang saya dapat dari warisannya.”Nabi menjawab :”Kamu mendapat seperenam.”[2]

  1. Istilah-istilah dalam mawaris

Adapun kata al Mawaarits adalah jama’ dari kata mirots. Dan yang dimaksud dengan al Mirotsu, demikian pula al irtsu, wirtsy, wirotsah dan turots, yang diartikan dengan al murutsu, adalah harta peninggalan dari orang yang meninggal untuk ahli warisnya.

Orang yang meninggalkan harta tersebut dinamakan al muwaaritsu sedang ahli waris disebut dengan al waritsu.[3]

  1. Syarat dan Rukun Kewarisan

  1. Syarat kewarisan

Syarat kewarisan ada tiga, yaitu :

a) Meninggalnya pewaris dengan sebenarnya maupun secara hukum, seperti keputusan hakim atas kematian orang yang mafqud ( hilang )

b) Hidupnya ahli waris setelah kematian pewaris, walaupun secara hukum seperti anak dalam kandungan

c) Tidak adanya salah satu penghalang dari penghalang-penghalang pewarisan

Dengan adanya syarat pertama, maka segala harta dan hak seseorang tidak boleh dibagikan, kecuali orang tersebut benar-benar telah meninggal dunia atau hakim memutuskan kematiannya, seperti orang hilang misalnya. Apabila hakim telah memutuskan kematian orang tersebut dengan bukti-bukti yang kuat, maka saat itu barulah harta peninggalannya dapat dibagikan kepada ahli warisnya.

Dengan syarat kedua, maka kelayakan seseorang sebagai ahli waris dapat terjamin, sebab ahli warislah yang akan menerima perpindahan harta peninggalan orang yang meninggal dunia, dan hali itu tidak mungkin terjadi manakala ahli waris tersebut telah meninggal terlebih dahulu atau meninggal bersama-sama pewarisnya.

Dengan syarat ketiga, diharapkan para ahli waris berupaya untuk tidak melakukan hal-hal yang sekiranya dapat menolaknya untuk menerima harta peninggalan pewaris.[4]

  1. Rukun kewarisan

Rukun waris juga ada tiga, yaitu :

a) Muwarits, yaitu orang yang mewariskan dan meninggal dunia. Baik meningal secara hakiki atau karena keputusan hakim dinyatakan mati dikarenakan beberapa sebab.

b) Mauruts, yaitu harta peninggalan si mati yang akan dipusakai setelah dikurangi biaya perawatan, hutang piutang, zakat dan setelah digunakan untuk melaksanakan wasiat. Harta pusaka juga disebut mirots, irts, turots, dan tarikah.

Warits, yaitu orang yang akan mewarisi, yang akan mempunyai hubungan dengan muwarits, baik hubungan itu karena hubungan kekeluargaan maupun perkawinan.[5]


[1] Zakiah Darajat, Ilmu Fikih, ( Yogyakarta : Dana Bhakti Wakaf, 1995 ), h, 2

[2] Amir Syarifudin, Hukum Kewarisan Islam, ( Jakarta : Prenada Media, 2005 ), h, 7-13

[3] Zakiah Darajat, Op. cit, h, 3

[4] Suparman Usman, Fikih Mawaris Hukum Kewarisan Islam, ( Jakarta : gaya Media Pratama, 1997 ), h, 24-25

[5] Zakiah Darajat, Op.cit, h, 17


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: