Oleh: khalik0589 | Maret 15, 2010

ILMU RIJAL AL HADIS

BAB I

PENDAHULUAN

Islam adalah agama yang benar, dengan memiliki dua pegangan yang sangat terpercaya, yaitu Al Quran dan Hadis Nabi Muhammad SAW. Untuk mengetahui tentang hadis ini, ditemukan suatu ilmu khusus yang bernama Ilmu Hadis. Ilmu ini membantu umat Islam untuk mengetahui hadis dengan sebenar-benarnya, baik dari sanad, matan maupun rawi.

Dalam pembahasan kali ini, pemakalah akan menjelaskan salah satu dari berbagai cabang ilmu yang ada dalam ilmu hadis yaitu Ilmu Rijal Al Hadis. Di sini akan dijelaskan tentang pengertian serta objek kajian dari Ilmu Rijal Hadis ini.

BAB II

PEMBAHASAN

PENGERTIAN DAN OBJEK KAJIAN

A. Ilmu Rijal Al Hadis

Menurut bahasa, rijal artinya para kaum pria. Sedangkan Ilmu Rijal Hadis yang dimaksud disini adalah :

  1. 1.      Menurut Muh. Zuhri dalam bukunya Hadis Nabi menyatakan bahwa ilmu Rijal Hadis adalah Ilmu yang membicarakan tentang tokoh / orang yang membawa hadis, semenjak dari Nabi sampai dengan periwayat terakhir ( penulis kitab hadis ).[1]
  2. 2.      Munzier Suparta menyatakan, Ilmu Rijal Hadis adalah :

“Ilmu untuk mengetahui para perawi hadis dalam kapasitasnya sebagai perawi hadis”.[2]

Setelah melihat pengertian Ilmu Rijal Hadis dari dua pengertian diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa Ilmu Rijal Hadis adalah suatu cabang ilmu dalam ilmu hadis yang membahas tentang para perawi hadis untuk mengetahui kapasitasnya sebagai perawi hadis.

Ilmu Rijal Al Hadis merupakan jenis ilmu hadis yang sangat penting. Karena ilmu hadis mencakup kajian terhadap sanad dan matan. Rijal ( tokoh-tokoh ) yang membentuk sanad merupakan para perawinya.[3]

Ada beberapa istilah untuk menyebut ilmu yang membicarakan masalah ini. Ada yang menyebut Ilmu Tarikh, ada yang menyebut Tarikh ar-Ruwat, ada juga yang menyebutnya Ilmu Tarikh ar-Ruwat.

B. Objek Pembahasan

Hal yang terpenting di dalam Ilmu Rijal Al Hadis adalah sejarah kehidupan para tokoh tersebut, meliputi masa kelahiran dan wafat mereka, negeri asal, ke negeri mana saja tokoh-tokoh itu mengembara dan dalam jangka berapa lama, kepada siapa saja mereka memperoleh hadis dan kepada siapa saja mereka menyampaikan hadis.[4]

Oleh karena itu, mereka ( perawi ) yang menjadi objek ilmu rijal al hadis. Karena itu tidak aneh ( bila demikian keadaannya ) ulama memberikan perhatian yang sangat besar terhadapnya.

Dalam ilmu ini diterangkan tarikh ringkas dari riwayat hidup para perawi, madzhab yang dipegangi oleh para perawi dan keadaan-keadaan para perawi itu menerima  hadits.

Jadi yang menjadi objek pembahasan dalam ilmu rijal hadis ini adalah para perawi hadis yang akan diteliti bagaimana kisah hidupnya sehingga akan membantu dalam melihat tingkatan suatu hadis berdasarkan sanadnya.

C. Faktor-faktor yang Menyebabkan Sejarah Para periwayat menjadi Objek Kajian

Banyak hal yang menyebabkan sejarah para periwayat hadis menjadi objek kajian dalam Ilmu Rijal Al Hadis, diantaranya adalah :

  1. 1.      Tidak seluruh hadis tertulis pada zaman Nabi

Hadis yang ada ditulis pada masa Nabi sangat minim sekali, padahal yang menerima hadis sangat banyak orangnya. Hal ini menyebabkan banyaknya terjadi kekeliruan dalam penyampaian hadis selanjutnya. Hadis yang disampaikan itu kadang dalam penyampaiannya mengalami perubahan-perubahan redaksi sehingga menyebabkan hadis tersebut menjadi rendah tingkatannya. Oleh karena itu dalam masalah ini diperlukan pengetahuan tentang para perawi yang ada dalam tingkatan sanad untuk menghindari kesalahan-kesalahan tersebut.

  1. 2.      Munculnya pemalsuan hadis

Hadis Nabi yang belum terhimpunn dalam suatu kitab dan kedudukan hadis yang sangat penting dalam sumber keajaran Islam, telah dimanfaatkan secara tidak bertanggung jawab oleh orang-orang tertentu. Mereka membuat hadis palsu berupa pernyataan – pernyataan yang mereka katakana berasal dari Nabi, padahal Nabi sendiri tidak pernah menyatakan demikian. Untuk itu Ilmu Rijal Hadis banyak membicarakan biografi para periwayat hadis dan hubungan periwayat satu dengan periwayat lainnya dalam periwayatan hadis agar menghindari terjadinya pemalsuan hadis.

  1. 3.      Proses penghimpunan hadis ( Tadwin )

Karena takut akan kehilangan hadis, maka pada masa khalifah diadakan pengumpulan hadis dari seluruh daerah. Dalam melakukan penghimpunan hadis ini, diperlukan pengetahuan tentang sejarah hidup para perawi sehingga dapat diketahui kualitas hadis yang di himpun tersebut agar tidak terjadi ketercampuran antara hadis yang lebih baik kualitasnya dari segi sanad dengan hadis maudu’ maupun hadis dhaif dalam penghimpunan itu.[5]

Inilah beberapa factor yang menyebabkan di dalam Ilmu Rijal Hadis, sejarah para periwayat menjadi objek kajian. Di sebabkan betapa pentingnya pengetahuan tentang periwayat dalam hal-hal yang telah disebutkan diatas.

D. Kegunaan Ilmu Rijal Hadis Beserta contoh

Sejarah merupakan senjata terbaik yang digunakan oleh ulama dalam menghadapi para pendusta. Sufywan Al Tsaury mengatakan : “Sewaktu para perawi menggunakan kedustaan, maka kami menggunakan sejarah untuk melawan mereka.”

Ulama tidak cukup hanya menunjukkan urgensi mengetahui sejarah para perawi, tetapi mereka sendiri juga mempraktekkan hal itu. Contoh mengenai hal itu sangat banyak, sampai tak terhitung.

Antara lain yang diriwayatkan oleh ‘Ufair ibn Ma’dan Al Kala’yi, katanya : Umar ibn Musa datang kepada kami di Himsh. Lalu kami berkumpul di mesjid. Lalu beliau berkata : “Telah meriwayatkan kepada kami guru kalian yang shaleh.” Ketika sering mengungkap kata itu, aku bertanya kepadanya : “Siapa yang anda maksud guru kami yang shaleh? Sebutlah namanya agar kami bisa mengenalnya.” Ia menjawab : “Khalid Ibn Ma’dan.” Aku bertanya kepadanya : “Tahun berapa anda bertemu dengannya?” Ia menjawab : “Aku bertemu dengannya pada tahun seratus delapan.” Aku bertanya lagi : “Di mana anda bertemu dengannya?” Ia berkata : “Aku bertemu di dalam peperangan Armenia.” Lalu aku bertanya kepadanya : “Bertakwalah kepada Allah, wahai Syeikh dan jangan berdusta. Khalid ibn Ma’dan wafat tahun seratus empat. Jadi anda mengaku bertemu dengannya empat tahun sesudah ia  meninggal.” Aku tambahkan pula, ia tidak turut serta dalam peperangan ke Armenia. Dia hanya ikut dalam perang Romawi.[6]

Dengan ilmu ini kita dapat mengetahui, keadaan para perawi yang menerima hadits dari Rasulullah dan keadaan perawi yang menerima hadits dari sahabat dan seterusnya.

Dan juga dengan ilmu ini, dapat ditentukan kualitas serta tingkatan suatu hadis dalam permasalahan sanad hadis.

Jadi dapat diketahui bahwa ilmu rijal hadis berguna untuk mengetahui tentang para perawi yang ada dalam tingkatan sanad hadis. Dengan mengatahui para perawi itu akan dapat mencegah terjadinya pemalsuan hadis, penambahan matan hadis, juga dapat mengetahui tingkatan keshahihan tiap-tiap hadis yang ditemui.

E. Latar Belakang Pentingnya Ilmu Rijal Hadis

Ilmu Rijal Hadis ini lahir bersama-sama dengan periwayatan hadis dalam Islam  dan mengambil porsi khusus untuk mempelajari persoalan-persoalan di sekitar sanad. Ulama memberikan perhatian yang sangat serius terhadapnya agar mereka dapat mengetahui tokoh-tokoh yang ada dalam sanad. Ulama akan menanyakan umur para perawi, tempat mereka, sejarah mendengar ( belajar ) mereka dari para guru,disamping bertanya tentang para perawi itu sendiri. Hal itu mereka lakukan demi mengetahui keshahihan sima’ yang dikatakan oleh perawi dan demi mengetahui sanad-sanad yang muttashil dari yang terputus, yang mursal, dari yang marfu’ dan lain-lain. [7]

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Ilmu Rijal Al Hadis adalah suatu cabang ilmu dalam ilmu hadis yang membahas tentang para perawi hadis untuk mengetahui kapasitasnya sebagai perawi hadis.

Ilmu ini memiliki objek kajian yang sangat jelas yaitu tentang kisah hidup para periwayat yang meriwayatkan hadis Nabi.

Kisah hidup para perawi menjadi objek pembahasan dalam ilmu ini dikarenakan berbagai factor, diantaranya :

  1. 1.      Tidak seluruh Hadis ditulis pada masa Nabi
  2. 2.      Terjadinya pemalsuan Hadis
  3. 3.      Proses penghimpunan Hadis

Hal ini dikarenakan, dalam hal diatas sangat memerlukan pengetahuan tentang perawi Hadis tersebut untuk menghindari kesalahan maupun kecacatan dalam periwayatan hadis.

Ilmu Rijal Hadis ini lahir bersama-sama dengan periwayatan hadis dalam Islam  dan mengambil porsi khusus untuk mempelajari persoalan-persoalan di sekitar sanad.

B. Saran

Penulis sangat menyadari akan kekurangan-kekurangan yang ada pada makalah ini. Baik dari segi ilmunya maupun dari segi penulisannya. Itu semua disebabkan kurangnya referensi yang digunakan dan kurangnya pengalaman penulis. Untuk itu, apabila ada kritikan maupun saran dari pembaca yang bersifat membangun sangat penulis harapkan, agar di penulisan berikutnya penulis dapat memperbaikinya.


[1] Muh. Zuhri, Hadis Nabi, ( Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 1997 ), h. 117

[2] Munzier Suparta, Ilmu Hadis, ( Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2002 ), h. 30

[3] Muhammad Ajaj Al Khatib, Ushul Al Hadis, ( Jakarta : Gaya Media Pratama, 1998 ), h. 227

[4] Muh. Zuhri, Op. Cit, h. 117-118

[5] Syuhudi Ismail, Kaedah Keshahihan Hadis, ( Jakarta : Bulan Bintang, 1995 ), h. 100-112

[6] Muhammad Ajaj Al Khatib, Op. Cit, h. 230-231

[7] Ibid, h. 227


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: