Oleh: khalik0589 | Maret 15, 2010

PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA

  1. Proses masuknya Islam ke Indonesia

Suatu kenyataan bahwa kedatangan Islam ke Indonesia dilakukan secara damai.[1] Berbeda dengan penyebaran Islam di Timur Tengah yang dalam beberapa kasus disertai dengan pendudukan wilayah oleh militer Muslim. Islam dalam batas tertentu disebarkan oleh pedagang, kemudian dilanjutkan oleh para guru agama ( da’i ) dan pengembara sufi. Orang yang terlibat dalam kegiatan dakwah pertama itu tidak bertendensi apapun selain bertanggung jawab menunaikan kewajiban tanpa pamrih, sehingga nama mereka berlalu begitu saja. Tidak ada catatan sejarah atau prasasti pribadi yang sengaja dibuat mereka untuk mengabadikan peran mereka, ditambah lagi wilayah Indonesia yang sangat luas dengan perbedaan  kondisi dan situasi. Oleh karena itu wajar kalau terjadi perbedaan pendapat tentang  kapan, darimana, dan dimana pertama kali Islam datang ke Nusantara. Namun secara garis besar perbedaan tersebut dapat dibagi menjadi sebagai berikut :[2]

  1. Pendapat pertama dipelopori oleh sarjana-sarjana orientalis Belanda, diantaranya Snouck Hurgronje yang berpendapat bahwa Islam datang ke Indonesia pada abad ke 13 m dari Gujarat ( bukan dari Arab langsung ) dengan bukti ditemukannya makam sultan yang beragama Islam pertama Malik As-Shaleh, raja pertama kerajaan Samudera Pasai yang dikatakan berasal dari Gujarat.
  2. Pendapat kedua dikemukakan oleh sarjana-sarjana Muslim, diantaranya Prof. Hamka yang mengadakan “Seminar Sejarah masuknya Islam Ke Indonesia” di Medan tahun 1963. Hamka dan teman-temannya berpendapat bahwa Islam sudah datang ke Indonesia pada abad pertama Hijriyah ( kurang lebih abad ke 7 – abad ke 8 ) langsung dari Arab dengan bukti jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional sudah dimulai jauh sebelum abad ke 13 ( yaitu sudah ada sejak abad  ke 7 m ) melalui selat malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di Cina ( asia timur ), sriwijaya di Asia tenggara dan Bani Umayyah di Asia Barat.
  3. Sarjana Muslim kontemporer seperti Taufik Abdullah mengkompromikan kedua pendapat tersebut. Menurut pendapatnya memang benar Islam sudah datang ke Indonesia sejak abad pertama hijriyah atau abad ke 7 atau 8 m, tetapi baru dianut oleh para pedagang timur tengah di pelabuhan-pelabuhan. Barulah Islam masuk secara besar-besaran dan mempunyai kekuatan politik pada abad ke 13 dengan berdirinya kerajaan Samudera Pasai.

Sedangkan menurut laporan seorang musafir Maroko, Ibnu Batutah yang mengunjungi samudera pasai dalam perjalanannya ke negeri Cina pada 1345 m, agama Islam yang bermazhab Syafe’I telah mantap di sana selama seabad.[3] Oleh karena itu, berdasarkan bukti ini, abad ke 13 biasanya dianggap sebagai masa awal masuknya agama Islam ke Indonesia.

Adapun daerah pertama yang dikunjungi adalah pesisir utara pulau Sumatra. Mereka membentuk masyarakat Islam  pertama di Peureulak Aceh timur yang kemudian meluas sampai bias mendirikan kerajaan Islam  pertama di Samudera Pasai, Aceh Utara.

Sekitar permulaan abad 15, Islam telah memperkuat kedudukanya di Malaka, pusat rute perdagangan Asia tenggara yang kemudian melebarkan sayapnya ke wilayah-wilayah Indonesia lainnya. Pada permulaan abad tersebut, Islam sudah bisa menjejakkan kakinya ke Maluku, dan yang terpenting ke beberapa kota perdagangan di pesisir utara pulau Jawa yang selama beberapa abad menjadi pusat kerajaan Hindu yaitu kerajaan majapahit. Dalam waktu yang tidak terlalu lama yakni permulaan abad 17, dengan masuk Islamnya penguasa kerajaan Mataram yaitu sultan Agung, kemenangan agama tersebut hampir  meliputi sebagian besar wilayah Indonesia.

Tersebarnya Islam ke Indonesia adalah melalui saluran-saluran sebagai berikut :

  1. Perdagangan

Pada taraf  permulaan , saluran Islamisasi adalah perdagangan. Kesibukan lalu lintas perdagangan pada abad ke 7 hingga ke 16 m, membuat pedagang Muslim ( Arab, Persia, dan India ) turut ambil bagian dalam perdagangan dari negeri-negeri bagian barat, tenggara dan timur benua asia. Saluran islamisasi melalui perdagangan ini sangat menguntungkan karena para raja dan bangsawan turut serta dalam kegiatan perdagangan, bahkan mereka menjadi pemilik kapal dan saham.[4]

  1. Dakwah yang dilakukan oleh mubalig yang berdatangan bersama para pedagang . para mubalig itu bisa jadi juga para sufi pengembara.[5]
  2. Perkawinan

Jalur perkawinan ini lebih menguntungkan apabila terjadi antara saudagar Muslim dengan anak bangsawan atau anak raja dan anak adipati, karena raja, adipati atau bangsawan itu kemudian turut mempercepat proses islamisasi.

  1. Kesenian

Saluran islamisasi melalui kesenian yang paling terkenal adalah pertunjukkan wayang. Dikatakan, Sunan Kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam menuntaskan wayang. Dia tidak pernah meminta upah pertunjukkan, tetapi ia meminta kepada para penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Kesenian-kesenian lain juga dijadikan alat islamisasi seperti sastra ( hikayat, babad dan sebagainya ), seni bangunan dan seni ukir.

  1. Pendidikan

Islamisasi juga dilakukan melalui pendidikan, baik pesantren maupun pondok yang diselenggarakan oleh guru-guru agama, kiai-kiai dan ulama-ulama. Di pesantren atau pondok itu calon ulama , guru agama, dan kiai mendapat pendidikan agama. Setelah keluar dari pesantren, mereka pulang ke kampung masing-masing atau berdakwah ke tempat tertentu mengajarkan Islam.

  1. Politik

Di Maluku dan Sulawesi selatan, kebanyakan rakyat masuk Islam setelah rajanya memeluk Islam terlebih dahulu. Pengaruh politik raja sangat membantu  tersebarnya Islam di wilayah ini. Di samping itu, baik jawa dan Sumatra maupun di Indonesia bagian timur, demi kepentingan politik, kerajaan-kerajaan Islam memerangi kerajaan-kerajaan non Islam. Kemenangan kerajaan Islam  secara politis banyak menarik penduduk kerajaan bukan Islam itu masuk Islam.[6]

  1. Tasawuf dan tarekat

Para sufi menyebarkan Islam melalui dua cara :

1)      Dengan membentuk kader mubalig agar mampu mengajarkan serta menyebarkan agama Islam di daerah asalnya.

2)      Melalui karya-karya tulis yang tersebar dan dibaca di berbagai daerah[7]

Melalui saluran-saluran itu Islam secara berangsur-angsur menyebar. Penyebaran Islam di Indonesia, secara kasar dapat dibagi dalam tiga tahap :

  1. Di mulai dengan kedatangan Islam yang diikuti oleh kemerosotan kemudian keruntuhan Majapahit pada abad 14 sampai 15
  2. Sejak datang dan mapannya kekuasaan colonial Belanda di Indonesia pada abad ke 19
  3. Bermula pada awal abad ke 20 dengan terjadinya “liberalisasi” kebijaksanaan pemerintah colonial Belanda  di Indonesia.

[1] Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam, ( Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2005 ), h. 7

[2] Ibid, h. 8

[3] Hoesein Djayadiningrat dalam Ajid Thahir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, ( Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2004 ), h. 291

[4] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, ( Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1995 ), h. 201

[5] Musyrifah Sunanto, Op. cit, h. 10

[6] Badri Yatim, Op. cit, h. 202-203

[7] Musyrifah Sunanto, Op. cit, h. 11-12


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: